Blog Image

Blog

LAWAN KEKHAWATIRAN SPEECH DELAY PADA ANAK - Part 1

November 25, 2020
/
Information
LAWAN KEKHAWATIRAN SPEECH DELAY PADA ANAK - Part 1 image

Halo, Sahabat Suni ! Pekan lalu, Onty Suni Sunkrisps Talkie dengan dr. Adilla Hikma, Sp. KFR membahas speech delay atau terlambat bicara pada anak. Hayoo, siapa nih Sahabat Suni yang udah nonton? Atau malah ketinggalan? Eits, jangan berkecil hati kalau ketinggalan karena artikel berikut akan membahasnya.

 

Sahabat Suni, kenapa ya ada rasa khawatir terkait kemampuan bicara pada anak? Padahal perkembangan setiap anak berbeda, sehingga tidak ada patokan umur tertentu kapan anak bisa bicara dengan lancar. Maka dari itu, speech delay atau terlambat bicara lebih tepat dikatakan sebagai gangguan bicara. Bicara adalah kemampuan untuk mengekspresikan atau mengutarakan pikiran dan perasaan dengan bunyi yang terartikulasi. Kemampuan tersebut menjadi bentuk komunikasi antara pembicara dengan pendengar, sehingga jika kemampuan bicara terlambat dikhawatirkan akan mengurangi kesempurnaan fungsi komunikasi secara keseluruhan. Terutama yang pertama dalam hal keterikatan dengan lawan bicara, kedua apakah anak bereaksi seperti dapat mendengar dan kontak mata (listen and looking) dengan lawan bicara atau tidak, dan yang ketiga apakah anak nyaman dengan lawan bicara.

 

Kalau anak tidak merasa keterikatan dengan lawan bicara, tentu reaksi seperti tatapan atau mendengarkan dengan seksama tentu tidak optimal. Yang kemudian menyebabkan anak tidak merasa nyaman dengan lawan bicara. Berawal dari ketiga hal tersebut, akan memudahkan Moms & Dads Sahabat Suni untuk mengenali dan melawan kekhawatiran terlambat bicara pada anak.

 

Pada usia 18 minggu, pendengaran bayi mulai berfungsi. Hingga pada usia 23 minggu, bayi sudah dapat mengenali suara di sekitarnya. Mendengar adalah salah satu bentuk stimulus untuk dapat bicara. Semakin sering diberikan stimulus, maka anak akan semakin merasakan keterikatan sehingga antusias untuk merespon. Sahabat Suni bisa memberikan stimulus berupa mengajak bicara atau mengucapkan kata berulang. Pada bayi yang lahir prematur, akan memiliki kemungkinan untuk mengalami masalah dengan mulut dan alat pendengaran. Sebab bayi lahir lebih cepat, sebelum perkembangan dalam kandungan sempurna. Masalah dengan mulut, seperti tongue tie atau ankyloglossia dimana lidah terhubung ke dasar mulut dapat mengganggu upaya si kecil untuk bicara. Tongue tie memiliki gejala berupa si kecil kesulitan menyusu (direct breast feeding). Selain masalah dengan mulut, kesehatan alat pendengaran berpengaruh terhadap kemampuan bicara. Kondisi alat pendengaran yang kurang optimal membuat anak tidak dapat menerima stimulus dengan baik, sehingga anak sulit merasa keterikatan dengan lawan bicara.

 

Jadi, tidak ada salahnya Sahabat Suni memeriksakan kondisi alat pendengaran dan mulut anak Sahabat Suni dengan dokter anak. Apalagi faktor genetik dan riwayat kejang juga dapat menjadi penyebab speech delay. Komunikasikan secara detail perkembangan si kecil dengan dokter anak. Sebab treatment yang diberikan dari dokter anak pun akan tergantung dari diagnosa mengapa anak mengalami speech delay. (part 1)

 

Sumber: Sunkrisps Talkie dengan dr. Adilla Hikmah, Sp. KFR